Minggu, 03 Januari 2016

Cita-citaku kandas di KL (Kuala Lumpur)

Filled under:

KASRIZAL-Pagi ini, sinar mentari bersinar indah memberikan senyuman, burung-burung bernyanyi mengalunkan nada bahagia, angin berhembus dan rerumputan menari-menari menikmati pagi.
Sebuah gubuk tua terletak ditengah-tengah Desa yang dihiasi oleh pepohonan rindang, itulah tempat aku menghirup udara segar kehidupan.

Aku anak paling bungsu dari tujuh bersaudara, hidup dengan kerukunan dan penuh kasih sayang membuat aku merasa akulah yang paling beruntung di Jagat Raya ini.

Umurku sudah 19 tahun baru saja aku lulus dari salah satu SMK di Kotaku, aku memiliki cita-cita ingin kuliah diluar Kota. Tapi, karena keluargaku dihimpit oleh Ekonomi yang lemah maka cita-cita itu hanya mimpi dan mimpi hanyalah bunga tidur yang tak akan pernah menjadi realita. Aku mengerti dan paham keadaan keluargaku. Tapi, tekadku sangat bulat ingin kuliah diluar kota dan aku juga tidak mau merepotkan orang tuaku.

Siang berlalu dan malampun menghampiri aku terus memikirkannya hingga lelapku tiba. Hati memelas dan rintihanku hanya tuhan yang maha tahu. Bissmillah, aku yakin semua akan tercapai dan akan indah pada waktunya.

Suatu hari, aku sedang duduk-duduk diteras rumah dengan santainya, tiba-tiba seorang laki-laki yang tak asing dipandanganku menghampiri sambil melempar senyum kepadaku. Dialah kakak kelimaku, sebut saja namanya Kak Angah. Kak Angah adalah orang perantauan, dia TKI di Malaysia. Dia baru saja pulang dari Rantau. Hidupnya penuh dengan pertualangan di Negeri orang. Dia ingin berbagi pengalaman yang telah menumpuk dipundaknya padaku tentang Negeri Seberang nan indah, pekerjaan mudah didapat dengan gaji yang mahal dan aku menjadi pendengar terbaiknya yang begitu polos dan belum mengerti apa-apa.

Setelah mendengar pengalaman dari Kak Angah aku ingin sekali seperti dia. Menjadi anak perantauan yang memiliki penghasilan besar dan aku pasti akan dapat melanjutkan kuliahku diluar Kota. Inilah momentum yang sangat aku tunggu-tunggu.

TKI itu gelar yang akan kusandang nantinya. Meskipun pengalaman yang diberikan kakakku yang positif saja. Tak terdengar oleh telingaku kekerasan, berbeda sekali dengan berita-berita yang seringkali kulihat dan kudengar di Televisi tentang Negeri Jiran ini. yang menakutkan dan mengganaskan. Tapi, gak apa-apalah yang terpenting dengan penghasilan yang besar nanti aku bisa mencapai cita-citaku. Pikiranku hanya satu kuliah diluar Kota. Apapun akan aku lakukan demi impian.
Malam ini pikiran tak menentu, matapun tak mau terlelap dan ingin rasanya aku merubah malam menjadi pagi, supaya aku dapat bertanya gimana caranya  aku bisa bekerja di Malaysia. Soal uang untuk berangkat kesana bukan persoalan. Aku memiliki uang tabungan yang cukup untuk berangkat kesana. Tapi, apakah kakakku memperbolehkanku untuk pergi bersamanya?, boleh atau gak boleh aku akan berangkat.

Esok paginya bersama semangat mentari menyinari Bumi, aku mencari kakakku dan aku sudah gak sabar berjumpa dengannya. Akhirnya kujumpai kakakku sedang membersihkan kandang Ayam. Aku langsung menolong ia membersihkannya dengan semangat yang membakar dan hati yang gembira. Kakakku terheran-heran melihat tingkahku yang tak seperti biasanya.

Selesai membersihkan kandang Ayam. Dengan manja aku mengambil hati kakakku “kakak boleh ya, Aku ikut bersama kakak bekerja di Malaysia? Boleh y?”, kakakku menjawab“Yang benar kamu ingin bekerja di Malaysia, coba kamu pikir baik-baik?”, “iya, kak aku telah memikirnya matang-matang”, jawabku dengan wajah mengiba penuh harapan. Dengan menutup bibirnya “hmmm,,,baiklah jika itu kemauanmu, besok kita berangkat, siap-siap aja ya?”,“siiip kakak, emang kakakku yang paling baik”.

Malam dengan sinar bulan yang bercahaya dan dengan bintang yang setia menemaninya. Aku datang kepada Ayah dan Ibu untuk meminta izin, doa dan restunya. Alhamdulillah,kedua orang tuaku mersetuiku untuk mengais rizki di Negeri orang.

Besoknya aku dan kakakku berangkat ke Jambi, setiba di Jambi kami langsung ke Dumai pekan baru menuju pelabuhan Klang Malaysia, selama enam jam menggunakan Kapal keberangkatan Dumai express.

Kepergian yang meneteskan  air mata Ibunda yang membuat hatiku teriris begitu pedih. Dalam kesedihan itu qalbuku membatin “Bunda, setiap tetesan air mata bunda akan menjadi saksi perjuangan ananda”, aku langsung memalingkan padanganku dari Ibunda dan kupandangi ombak berlari-lari seolah mengajariku mengejar indahnya pencapaian impian.

Akhirnya kami tiba juga di Pelabuhan Klang Malaysia, kemudian kakakku mengajakku untuk menginap di tempat saudara di Puchong Putra Perdana Selangor Malaysia.

Tiga hari berlalu aku telah menikmati indahnya ibukota  Kuala Lumpur yang sangat berbeda sekali dengan Indonesia. Pembangunannya begitu rapid dan tertata begitu indah membuat ibukota ini begitu banyak dikunjungi dari berbagai Negara. Aku telah betah di sini dan aku hampir lupa tujuan aku sebenarnya.

Aku bekerja sebagai pedagang pakaian, sepatu dan sandal. Aku banyak sekali mendapat keuntungan dan aku yakin dengan penghasilan ini aku akan kuliah ditempat yang aku inginkan.

Hari-hari terus berlalu dan tak sedetikpun kulewati dengan sia-sia. Pakaian, sandal dan sepatu itulah teman setia dan aku tidak pernah bosan-bosan melakukan pekerjaan ini. Dan aku percaya akan proses hidup, jika ingin mendapatkan sesuatu tentu tidak sama seperti membalikkan kedua telapak tangan. Tetapi, semua perlu proses dan proses inilah yang akan mendewasakan hidupku.

Pada hari Sabtu tanggal 21 februari 2009  jam 09:00  waktu Malaysia. Aku sedang asyik berjualan. Tiba-tiba datang seseorang yang berbadan tegap didepanku, kukira ia ingin membeli sesuatu di Kedaiku, tempatku jualan.lalu tiba-tiba ia berkata kepada ku dengan melontar sebuah pertanyaan “mane IC kata nya”, ku jawab “tak de cik”, “passport” katanya.“ade”, jawabku. Lalu kutunjukkan kepada nya, kemudian ia memeriksa passport ku. Setelah di periksa ia berkata “ini visa nya dah mati,ikut”, katanya lalu aku bersamanya dan beberpa orang lain di tangkap nya.

Setiba di Kantor Police Malaysia. Aku diproses dan aku terpaksa harus menjalani hukuman 45 hari penjara. Karena, aku telah melanggar peraturan sebagai TKI. Sekarang aku hanya bisa meratapi nasib dibalik jeruji besi sel Negeri Jiran ini. Hatiku membatin “ya allah inikah cobaan yang harus hamba lalui, berat sekali ya Allah swt”. Aku sadar aku telah jauh dari jalannya. Aku melangkah dibuminya tampa tau menghargai yang menciptanya. Derai tangis, penyesalan dan keinsyafan datang menghampiri. Aku harus move on dan aku tidak boleh dibalut kelukaan dan kesedihan.

Aku yakin Allah memberikan cobaan ini kepadaku bearti Allah yakin akan kemampuanku untuk menghadapinya dan jika Allah yang member cobaan ini tentu allah yang menghibur hati ini.
Didalam ruangan penderitaan ini. Aku belajar membenah diri dan aku mendekati sang pemilik kebahagian dan penghibur hati yakni Allah swt.

Tiada terasa hari terus berganti dan sudah lama aku setia ditempat ini, akhirnya aku dibebaskan dan dipulangkan ke Indonesia yang dibiayai oleh pemerintah. Semua telah pupus bagai debu yang berterbangan diterpa angin kegagalan. Semangat yang membara sudah padam oleh ketidak berhasilan. Semua musnah, hancur dan berantakan.

Sekarang aku kembali ke Indonesia dan berjuang di negeri tercinta. Dan aku berusaha belajar menghargai negeri tempat kelahiranku. Walau gimanakan meskipun hujan emas di negeri orang hujan batu dinegeri sendiri, lebih baik hidup di negeri sendiri lebih nyaman meskipun hidup serba kekurangan dan kecukupan. Dan terakhir aku ingin mengatakan aku bangga menjadi bangsa Indonesia.

Posted By Unknown10.44